Gilang Arenza | Jurnal Nyinyir #1: Mana Bahasamu?
391
post-template-default,single,single-post,postid-391,single-format-standard,ajax_updown,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,vertical_menu_transparency,vertical_menu_transparency_on,wpb-js-composer js-comp-ver-4.2.3,vc_responsive

Jurnal Nyinyir #1: Mana Bahasamu?

Seringkali saya membayangkan skenario tentang sebab-akibat yang membuat saya ngeri sendiri. Salah satu hal iseng itu adalah soal bahasa. Entah kenapa saya agak aneh ketika berbicara dengan orang yang berbicara menggunakan bahasa asing (juga daerah lain) tapi tidak sesuai dengan waktu dan tempat, serta berlebih-lebihan. Alasan saya bukan karena saya tidak suka dengan penggunaan bahasa asing, tapi ada hal yang menurut saya cukup beralasan. Saya hanya takut kebudayaan berbahasa kita HILANG. Ya, hilang. Hilang ketika semua orang sekarang beramai-ramai menerapkan satu bahasa aja. Semuanya jadi seragam.

Saya paham alasan saya mudah terbantahkan, toh ini hanya opini saya saja. Tapi ketakutan saya juga tidak mengada-ada kok. Jika menganggap tulisan saya cuman omong kosong coba baca artikel Suara-Suara yang Sirna. Menurut artikel di National Geographic tersebut, satu bahasa punah setiap hari dan sudah setengah dari 7000 bahasa punah karena semua beralih memakai Bahasa Inggris, Mandarin, atau Spanyol. Silahkan kalo ada yang mau ketawa nyinyir karena tidak sependapat dengan saya. Saya hanya takut ketika nanti suatu waktu di seluruh dunia, planet bumit tepatnya hanya mengenal satu bahasa saja, woowww.

Bukanya apatis terhadap bahasa  asing, jujur sekarang ini saya lagi mendalami dan mempelajari bahasa asing. Ada hal lain yang saya peroleh ketika mempelajari bahasa. Bagaimana saya merasa kita ini kaya, bagaimana kita sangat berbudaya meski hanya melalui bahasa. Semua terasa lebih. Saya merasakan keindahan perbedaaan ketika kita berusaha mengungkapkan sesuatu. Disitulah menurut saya yang menarik dari “berbahasa”. Menurut saya inti dari kita “berbahasa” adalah bagaimana kita mengkomunikasikan / mentransferkan apa yang ada di benak kita ke orang lain atau lawan bicara kita. Bukanya untuk terlihat lebih mengglobal atau yang lebih parah biar lebih keren. Percuma juga kalo kita bersusah mengeluarkan seluruh kemampuan berbahasa kita tapi orang lain tidak bisa menangkap maksud atau inti yang hendak kita sampaikan.

Saya tidak bisa menyalahkan soal kemajuan teknologi dan menyalahkan zaman. Tapi saya heran kenapa kita semua selalu berkiblat ke arah negara-negara di belahan utara khatulistiwa, termasuk hal bahasa. Paradigmanya kalo kita mirip mereka kita seolah-olah udah dianggap sukses. Contoh paling gampang ya dimulai dari sekolah. Banyak sekolah atau intstitusi yang melabeli dirinya “internasional” mereka mengkalim kalo sistem pendidikan mereka termasuk terbaik. Pemberian materi diberikan menggunakan Bahasa Inggris. Hal ini wajar jika siswa yang dikelas memang berisikan anak-anak ekspatriat yang bahasa ibu mereka Bahasa Inggris, lha tapi kalau kelas yang dilabeli internartional ternyata siswanya asli pribumi semua? Saya berpikir kenapa ga ada sekolah yang berani mengklaim sekolahnya dengan label  “Sekolah Berbasis Budi Luhur serta Nilai-Nilai Kekayaan Bangsa”. Hahaha, lagi-lagi utopia. Tapi jujur saya tidak mau jika anak saya besok tidak mengenal akan bahasa dan budaya bangsa kita. Takut, jika mereka tidak tau kalo Gathotkaca itu Satriya Pringgodani tetapi lebih familiar dengan tokoh Batman dan kota Gothamnya.

Sebagai orang jawa saya akan malu jika mereka tidak tau istilah jedhing, kepis, atau mungkin makanan mentho (-Ini saya masih membicarakan penggunaan bahasa jawa karena later belakang saya dan bayangkan jika semua anak di dunia mengenal bahasa serta kebudayaan asli mereka). Istilah-istilah atau nilai-nilai kebudayaan tersebut paling gampang ditularkan ya dengan cara berbahasa. Sampai sekarang saya masih belajar dan berusaha mencari tahu mengenai bahasa jawa. Kepada rekan saya yang berasal dari jawa saja saya sering menemukan perbedaan-perbedaan penggunaan kata yang menurut saya malah luar biasa.

Saya tidak melarang jika kita atau anak saya kelak mempelajari bahasa dan kebudayaan baru. Yang saya takutkan adalah ketika kita meninggalkan kulit asli kita dan berusaha menjadi “global” yang secara tidak sadar merupakan tindakan/usaha menjadi orang lain dan secara tidak langsung akan membuat kita semua SERAGAM. Saya hanya ingin diversitas kebudayaan ini tetap ada. Tetap kaya, tetap berbeda, seperti halnya keindahan kain tenun yang terdiri dari beraneka ragam warna benang.

P.S. Seandainya kamu waktu kecil dulu masih sering di-“kudang” Ibumu, berbahagialah! karena disitu terselip doa untukmu.
Foto suku Asaro – Papua New Guinea (source:http://www.beforethey.com/tribe/asaro)

1 Comment

  • Anonymous

    21.07.2012 at 00:00 Reply

    ati ati tot sesuk pas nikahanmu pranoto corone nganggo bahasa spanyol… wkwkwk

Post a Comment