Yiiiihaaaa….!!!! akhirnya sudah lulus juga. Gelar Sarjana Teknik udah berhasil direbut. walaupun lebih mengidam-idamkan gelar Ir. dibandingkan ST, hehe… 4 tahun yang penuh perjuangan. Terima kasih buat teman-teman yang sudah 4 tahun bersama, berjuang untuk menyelesaikan studi.
Selesai kuliah bukan berarti tugas kita juga usai. Paradigma orang awam pada umunya kalo habis lulus sarjana ya cari kerja, walaupun ga menutup kemungkinan untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Semua bebas memilih, yang mana aja yang bisa bikin kita enjoy yang mana bisa membahagiakan orang tua kita dan kita sendiri tentunya.
Melihat gelagat teman-teman saya, mereka jadi rajin mantengin lowongan kerja, ikutan job fair, ikutan milis atau folllow acount twitter yang bagi info soal kerjaan. Tapi ada juga yang sante-sante aja, kalo ditanya mereka ya tetep pengen kerja, tapi lebih memilih santai bentar sehabis TA, semabri nunggu wisuda. Oke itu pilihan, ga ada yang bisa disalahin.
Tetapi ada yang banyak berubah dari teman-teman saya. Yang dulu selama 4 tahun terakhir kita selalu belajar bersama, nglembur bareng. Saya ingat ketika kita duduk-duduk sante di sore hari ngomongin soal pelajaran yang agak ganjel dan kita berdiskusi santai. Obrolan ringan menjaid serius, tetapi menyenangkan penuh kehangatan. Waktu ketika lembur kerja kelompok, lembur ketika ada proyek ataupun sayembara, atau ketika bersama-sama mecahin bocoran soal ujian semester yang didapat dari kelas sebelah. Semuanya kita lakukan bersama.
Mungkin kalo mau diruntut lebih awal kita bisa flashback lebih awal lagi tentu masih bisa kita ingat sewaktu MOS ataupun LKMM Pradasar (LDO). Tugas senior yang sebanyak itu kita selesaikan BERSAMA-SAMA. Masih ingat soal menara/tower hidup? kita bahu-membahu berusaha memecahkan plastik, yang badanya besar dibawah, yang ringan naik ke atasnya. Itu semua kita lakukan bersama-sama dan untuk kita semua.
Tapi sekarang, saya tidak habis pikir ketika ada teman yang tanya soal job fair ataupun lowongan pekerjaan semua jadi tampak acuh, semua jadi pribadi yang tertutup. Semula saya ataupun teman yang lain adalah KAWAN sekarang berubah menjadi LAWAN. Saya jadi ga habis pikir, kenapa semua jadi berubah? Dulu yang semua kita kerjakan bareng-bareng kaya ga berguna. Apakah takut kalah saingan dengan kawanmu sendiri? Apakah ketika kita bertanya soal info lowongan pekerjaan berarti kita akan merebut kesempatan pekerjaan kalian ??? Ada juga kisah lain yang dia mengerjakan apa-apa sendiri, padahal dia mendapat info itu dari temanya, kacang lupa kulitnya.
Kenapa dulu yang kamu anggap KAWAN kini berubah jadi LAWAN ? tenang aja brur, kita ga bakal sepicik itu. Kenapa harus menganggap sahbatmu sendiri bakalan menjegal kamu? Kenapa sih kita ga bahu-membahu meraih kesuksesan itu bersama-sama? Saya jadi ingat ssalah satu tulisan dari Billy Boen tentang masalah Ranking. Kita dari dulu sudah diperkenalkan tentang yang namanya Ranking, 1-10. Semuaya berlomba-lomba menjadi terbaik. Menjadi menjadi nomor 1.
Sekarang kita bisa lihat efeknya. Kita diajarkan untuk “berkompetisi” sejak kita SD kebiasaan itu terbawa sampe sekarang, coba kalo sejak kecil kita diajarkan yang namanya bahu-membahu ? kita pasti akan terbiasa yang namanya tolong menolong. Pasti semua akan selesai lebih mudah lebih cepat. Coba kalo kita masih membiasakan berkompetisi, mungkin nanti kita akan saling sikut biar bias jadi bos di perusahaan kita. Efek lebih parah kita akan menghalalkan segala cara. Lebih menarik mana? Bahu membahu biar kita sukses bareng atau sikut menyikut biar kita sampai di puncak?
Saya juga barusan membaca ksiah tentang 2 pendaki gunung, sebut saja Si A dan Si B. Si A mendaki gunung secara semangat, dia terus melaju kencang tidak memperhatikan kanan-kiri, tanpa ba-bi-bu, dan singkat waktu dia sampai di puncak. Sedangkan Si B dia mendaki gunung dengan lebih santai, dia berhenti di spot menarik untuk sekedar berfoto atau menikmati pemandangan, sesekali ketika bertemu pendaki lain dia juga bertegur sapa atau menikmati kopi bersama. Akhirnya si B sampai juga di puncak dan dia masih bias menikmati keindahan puncak bersama rekan-rekan pendaki yang ia temui selama perjalanan. Si A yang sudah sampai terlebih dahulu cuman bisa menikmati sendirian. Ngerti kan makna di balik kisah ini?
Kembali ke teman-teman saya, saya cuman berpesan kita udah kuliah bersama selama 4 tahun, susah-duka kita lalui bareng. Inget kan waktu kita saling tanya waktu kesulitan menyelesaikan tugas, atau ketika kamu meminta tolong untuk meminjam catatanku sewaktu mau ujian? Semoga kebiasaan itu masih berlanjut sampai esok, terlebih saat sekarang ini. Memang mencari pekerjaan itu susah, tapi pertolongan kita terhadap yang lain tentunya sangat berguna termasuk soal informasi dan ini juga termasuk soal informasi beasiswa misalnya? Kenapa harus takut kita saingan? Kalo toh teman kita yang lebih dulu dapet pekerjaan berarti emang kita ga jodoh di perusahaan itu. Mungkin aja kalian yang belum dapet kerjaan memang ditakdirkan untuk membuka lapangan pekerjaan?
Santai teman ga usah risau soal rejeki. Belajar aja sama sedekah, Allah pasti menambah rizki kita kalai kita mau bersedekah. Anggap aja ketika kita mengajak teman kita mencari pekerjaan bersama atau cuman sekedar memberi informasi lowongan pekerjaan kita anggap sebagai “bersedekah” dan pasti Allah akan melipat gandakan apa yang telah kita sedekahkan.
Mungkin saya menulis ini agar kita semua bisa bahu-membahu mengejar kesuksesan kita. Sukses dengan jalan teman-teman sendiri. Tapi dengan cara yang elegan, cara yang di jalan Allah, Sukses dengan mengajak KAWAN kita sukses juga. Lebih menyenangkan pastinya. Ga usah mikir tentang persaingan, tenang aja saya masih menganggap kalian KAWAN bukan LAWAN.
-Saya dedikasikan untuk teman teman saya semua.-



No Comments