Gilang Arenza | Saat makan, simpan gadget-nya
330
post-template-default,single,single-post,postid-330,single-format-standard,ajax_updown,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,vertical_menu_transparency,vertical_menu_transparency_on,wpb-js-composer js-comp-ver-4.2.3,vc_responsive

Saat makan, simpan gadget-nya

Sekarang ini siapa sih yang tahan seharian ga pegang hape buat sekedar update status / ngetweet? Emang social network tambah ueeedannn sekarang ini. Ya memang pro kontra social network ini udah basi banget kalo mau dibahas. Tapi ini sudah jadi fenomena yang wajar di masyarakat kita.

Mulai dari pejabat sampai rakyat biasa udah pada twitter-an, facebook-an, 4square-an, instagram-an, path-an, tumblr-an, dll. Ditambah lagi perkembangan gadget yang super cepat dan ga bisa diikutin kalo kondisi keuangan kita terbatas. Informasi memang jadi sangat cepat masuk dan kita terima, dari yang dulunya gatau kabar teman/sodara bahkan artis pujaan sekarang udah gampang banget didapat. Di sini jarak jadi ga terasa, semua jadi berasa dekat.

Hampir tiap saat kita pasti buka salah satu social network tadi (termasuk saya juga :D) paling ga update status, check-in lokasi atau cuman sekedar ngeliatin timeline / home kita. Kegiatan ini juga ga ngenal waktu dan kenal tempat. Mulai dari bangun tidur, di kelas, di kantor, lagi nyetir, lagi di WC, lagi meeting kita pasti bisa ambil celah biar bisa update “status”. Dari kesemuanya itu mungkin yang paling menyebalkan adalah saat kita makan.

Mungkin banyak yang ga sadar sama kegiatan ini (termasuk saya lagi :p). Prosesi makan sekarang ini jadi prosesi untuk tidak mau ketinggalan update status. Dimana kita tetap berusaha untuk bersosialisasi ke orang lain melalui perantara “avatar” kita, sedangkan kita? cuman duduk di depan meja makan sambil nunggu pesanan datang trus asik pencet atau sentuh layar gadget kita. Kesan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat mungkin tepat adanya. 

Sebenarnya saat makan adalah saat yang tepat bagi kita untuk sekedar berbicara/berdiskusi/ngobrol ringan dengan rekan makan kita, bisa jadi itu teman, rekan bisnis, pacar, istri/suami bahkan anggota keluarga kita. Semuanya berubah, kita jadi asik sama dunia maya, malah avatar kita yang sibuk ber”chit-chat” sama avatar teman teman kita juga. Kehangatan saat di meja makan berubah jadi dingin. Dulu di meja makan adalah saat yang tepat bagi kita untuk cerita apa aja. Ga jarang banyak diskusi menarik muncul saat kita ada di meja makan. Warung-warung kopi dulu jadi tempat ngobrol. Sekarang mungkin berubah, semuanya pegang iPad atau hp android mereka. Cerita atau keluhan kita kepada orang tua dulu juga sering keluar saat selesai makan. Sekarang kalo kita liat di restoran semua anggota keluarga asik sama gadgetnya masing masing.

Mungkin yang belum bergeser adalah meeting di restorant/cafe. Agak aneh kalo mereka mau meeting tapi malah pada asik pegang gadget mereka dan ga ada komunikasi satu sama lain. Untungnya saya belum pernah liat yang ini secara langsung. Tapi bisa aja ini juga jadi kenyataan kalo kita “membiasakan” hal ini. Asik dengan dunia maya dan menganggap biasa komunikasi secara langsung.

Saya tidak mempermasalahkan soal kebiasaan baru kita ini sih. Kehidupan pasti berubah sesuai jamanya. Kalo dulu di warung kopi kita masih bisa ketawa-ketiwi atau sekedar menyapa kawan kita mungkin lama-kelamaan ga bakal bisa. Saya cuman berusaha mengurangi kebiasaan bergadget ria saat makan. Saya tetap berpikir, membuka social network itu ada waktunya, dan porsinya ga bisa menjadi sesuatu kebutuhan yang mendesak dan dilakukan berulang-ulang sepanjang waktu. Semua dilakukan secukupnya dan sewajarnya. Prosesi makan adalah prosesi yang sakral dan tidak bisa diganggu dengan sekedar bergadget ria.

Dengan ini saya kepengen mengurangi kebiasaan “ngetweet” atau “update status” terutama saat ada di meja makan. Saat di meja makan adalah waktu yang tepat untuk menikmati makanan dan waktu yang tepat untuk berkomunikasi secara langsung dengan rekan makan kita. Bukan membiarkan “avatar” kita melanglang buana, eksis di dunia maya menggantikan kita. Ayo, siapa yang mau ikutan gerakan “Saat makan simpan gadget-nya !” huahaha…

Bandung, 2012

ditulis ketika menunggu pesanan makan malam datang di warung dekat kosan :p

image source: http://www.wired.com/2014/02/gadgets-ruin-relationships-connection-illusion-one/

Tags:
,

No Comments

Post a Comment